Ciri-ciri saham gorengan

63

Saham sendiri merupakan salah satu instrumen investasi. Saham adalah surat yang menjadi bukti bahwa seseorang memiliki bagian modal suatu perusahaan. Seseorang yang memiliki saham artinya memiliki hak atas sebagian aset perusahaan.

Saham gorengan adalah saham yang dikelola oleh banyak orang untuk menjaga harga. Orang-orang ini biasanya adalah orang-orang kaya yang ingin mendapat untung besar dari ritel, atau biasa disebut dengan bandar. saham ini harganya sengaja direkayasa oleh oknum tertentu. Isu ini kerap kali terjadi dalam dunia investasi, bahkan sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Meski termasuk tindakan buruk, nyatanya hingga saat ini, praktek tersebut masih sering dilakukan.

Saham gorengan telah menjadi fokus para investor maupun trader. Sebagian besar pelakunya mengaku mendapat untung besar. Kasus ini juga menarik perhatian pejabat berwenang hingga presiden. Misalnya, Anda sengaja membeli saham dalam jumlah besar untuk menaikkan harga perusahaan. Agar tidak salah beli investor terutama investor pemula perlu tahuan ciri-ciri saham goreng:

  1. Kapitalisasi Pasar Kecil Umumnya saham gorengan merupakan saham lapisan kedua atau ketiga diluar dari saham blue chip. Artinya saham-saham tersebut memiliki kapitalisasi yang rendah.
  2. Volume Harian Tak Wajar Investor bisa menganalisis volume transaksi saham tersebut. Perlu diperhatikan ketika volume perdagangan sebuah saham tiba-tiba melonjak. Untuk itu, investor perlu melihat histori volume transaksi sebelumnya atau bisa menunggu sampai volume tersebut membentuk pola yang teratur.

    3. Volatilitas Harga Tidak Beraturan Selain volume, investor juga dapat menganalisa pergerakan harga sama tersebut atau melihat volatilitasnya. Saham yang sedang digoreng bisa naik tiba-tiba tapi bisa juga turun dengan tiba-tiba. Misalkan, saham ABCD bergerak naik ke Rp1.000 dari sebelumnya di level Rp500. Namun, tidak menunggu lama saham ABCD turun bisa terjun ke Rp500. 4. Masuk dalam daftar unusual market activity (UMA) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melakukan pengawasan terhadap saham-saham yang bergerak ekstrem lebih dari dua hari. Biasanya saham-saham tersebut akan disemprit oleh BEI. Selain itu, investor juga perlu mengecek daftar emiten yang masuk dalam radar unusual market activity (UMA). Emiten yang masuk dalam radar UMA bisa menjadi alarm dan peringatan bagi investor. Untuk menghindari peningkatan ataupun penurunan harga yang terlalu tajam, BEI juga menetapkan kebijakan auto rejection dengan batas atas dan batas bawah. Oleh karena itu, dikenal istilah Auto Reject Atas (ARA) dan Auto Reject Bawah (ARB). Sederhananya, auto rejection adalah aturan mengenai pembatasan kenaikan maksimum dan penurunan minimum harga saham selama satu hari perdagangan supaya perdagangan saham berjalan lancar. Mekanismenya begini, sistem bursa atau yang dikenal dengan Jakarta Automated Trading Sysyem (JATS) akan melakukan penolakan secara otomatis terhadap penawaran jual atau beli bila harga saham melebihi batasan harga yang ditetapkan BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sesuai arahan OJK, BEI menetapkan kebijakan auto rejection asimetris pada masa pandemi, yang berlaku mulai 13 Maret 2020. Kebijakan tersebut termaktub dalam Peraturan No. II-A Tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dengan SK Direksi No: KEP-00025/BEI/03-2020. Sesuai peraturan baru tersebut rentang harga saham Rp50—Rp200 akan dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan sebesar 35% atau penurunan harga saham sebesar 7% dalam satu hari. Sementara untuk rentang harga saham Rp200—Rp5.000 dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan harga sebesar 25% atau penurunan harga sebesar 7%. Kemudian untuk rentang harga saham di atas Rp5.000 dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan harga sebesar 20% atau penurunan harga sebesar 7%. Sebelum kebijakan auto rejection asimetris berlaku, Bursa menetapkan kebijakan auto rejection simetris, dimana batas atas dan batas bawah memiliki besaran yang sama di setiap fraksi harga. Perinciannya, kelompok harga saham di rentang Rp50-Rp200 memiliki batas atas dan batas bawah 35%, rentang harga Rp200-Rp5.000 berbatas atas dan berbatas bawah 25%, dan rentang harga di atas Rp5.000 memiliki batas atas dan batas bawah sebesar 20%.